Kamis, 09 Februari 2017

Cerpen - Sial


                                                                      Sial

Pagi yang cerah. Hari yang penuh dengan kesibukan.Seperti biasa pagi ini dia sedang sibuk membantu kakeknya menyambung hidup di kebun singkong mereka agar tak mati oleh rasa laparan yang bisa membuat orang menjadi tak waras,terlihat air berwarna bening sedang berlomba sampai ke garis finis,air bening yang membuat para cacing mengerutu kesal karena seharian mereka tak di beri makan dan di paksa bekerja keras. Ah...sungguh menyebalkan. Pagi ini ada warna merah merona yang terpancar dari wajah anak laki-laki itu,dia tampak sangat girang kau tahu kenapa? Sebab dia akan pergi memancing dengan sang kakek tercinta.Dia mengambil langkah seribu untuk bergegas mengambil sebuah ember tua dan alat pancing buntut milik kakeknya dari gudang,setelah itu dia segerah menghampiri kakeknya yang sudah cukup lama berdiri menunggunya di depan rumah,dia berlari sambil mengukir senyuman manis yang membuat kakeknya semakin bersemangat menjalani hidup berasa sepahit...em,tak bisa di jelaskan. "Ayo kek!"Seru anak laki-laki itu,sang kakek hanya merespon dengan sebuah senyuman Melayangkan langkah dengan perlahan dan pasti itulah yang mereka lakukan yah,jaga-jaga agar tak tersandung oleh bebatuan.Dan...langit juga sepertinya merasa senang pagi ini,awan putih menari-nari di langit biru lalu menjadi sebuah seni yang jarang orang memperhatikannya.Mereka terus berjalan melewati rumah warga,pepohonan rindang,dan... Burung-burung melantunkan lagunya yang sangat merdu membuat jiwa dan raga tenang seperti di surga tapi sudahlah ini bumi yang tak seindah surga. Mereka sudah cukup jauh berjalan dan akhirnya mereka sampai di pengujung perjalanan alias mereka sudah sampai di tempat tujuan yaitu di sungai desa kecil tempat mereka bernaung,aktivitas memancing sedang mereka lakukan. Duduk termenung menunggu upan dimakan ikan lezat jika di jadikan santapan makan siang nanti,sesekali dia melirik sang kakek yang masih setia menunggu ikan,dia menopang dagunya untuk memastikan dagunya tak membawanya jatuh kedalam sungai,kakeknya melirik sang cucu kemudian kembali berfokus pada tali pancing.Tiba-tiba dia berkata pada sang kakek "Berapa lama lagi kita akan menunggu kek? Aku sudah lelah" patutlah dia lelah sebab mereka sudah cukup lama ah,tidak lebih tepatnya sudah sangat lama."Sabar! Sebentar lagi" Ujar kakek menyemangati cucunya. Masa terus berjalan namun mereka tak juga mendapatkan satu ekor ikan.Astaga,matahari sudah tinggi,suara gendang dari perut semakin keras.Iss,kemana para ikan itu? Apa dia tidak iba pada mereka? Atau ikan-ikan itu sudah kenyang yah? Ah,entahlah akupun tak begitu mengerti ada apa dengan hari ini mengapa mereka kurang beruntung. Terlarut dalam masa,tiba-tiba...awan kelabu dengan cepat datang menyembunyikan mentari yang senjak tadi menemani mereka memancing.Rintik hujan mulai turun membasahi bumi,sedikit demi sedikit akhirnya menjadi banyak deh,mungkin langit juga sedih melihat ketidak beruntungan mereka pagi ini,langit menagis terseduh-seduh dan berterik dengan keras sehingga siapapun yang mendengar teriakannya akan menjadi takut. "Kek bagaimana ini?" "Ayo kita pulang hujannya tak akan berhenti samapai dia puas menangis" Mereka mempercepat langkah agar cepat sampai di gubuk mereka,di tengah perjalan tiba-tiba Petir menyambar pohon tua disamping mereka dan terbakar ,panik dan ketakutan melandah mereka seketika,mereka denagn susah payah menghindar dari kebakaran itu.Dan untunglah mereka selamat dari maut Tetapi perjalan mereka belum berakhir di situ,mereka masih berada di pinggir sungai itu karena sungai yang mereka datangi adalah sungai...bisa dibilang suangai besar. Hujan terus mengguyur badan kurus mereka.Tanah menjadi licin karenanya membuat perasaan waspada muncul dihati sang kakek,dia memegang erat tangan sih cucu takut ia jatuh namun Tuhan berkata lain bukan sih cucu yang terjatuh tetapi sang kakek pelindung sih cuculah yang akhirnya terpeleaet dan jatuh kesungai.Sih cucu berusaha menyelamatkan kakek tapi dia tidak bisa berbuat banyak karena umurnya masih sangat belia kal itu,6 tahun umur sih cucu.Perasaan yang tak menyesahkan dada sih cucu sampai jika bernafas pun terasa sakit. 
20 tahun berlalu,setiap dia mengingat kejadian itu dadanya sakit sama seperti waktu itu,rasa bersalah dan ingin mengakhiri hidup sering kali muncul dalam kalbu gelapnya tetapi dia kembali teringat pada nasehat dan kasih sayang dari kakeknya dulu,menjadian dia segerah tersadar dari fikiran bodohnya itu dan kembali melanjutkan perjuangan hidupnya demi mrnepati janji yang dia buat dengan sang kakek tercinta.
Em...aku tahu semua ini sangat kejam tetapi bagaimanapun jiga ini bukanlah dunia sinetron atau surga,semua orang pasti pernah merasakan penderitaan yang mendalam sangat dalam sampai hati terasa seperti tertusuk pasak.